Selasa, 27 Januari 2009 oleh Yudha P Sunandar
Harapan
Satu kata yang indah ketika kita mencoba menorehkan sebuah mimpi
Sebuah doa dari hati agar apa yang kita cita-citakan dapat tercapai
Suatu permohonan kepada Sang Khalik atas apa yang ingin kita gapai
Meskipun begitu,
Harapan seringkali kosong tanpa makna dan tanpa asa
Terputus begitu saja dari apa yang pernah kita ikrarkan
Padahal apa yang ingin kita gapai, telah ada sangat dekat di hadapan kita
Hanya saja, keputusasaan mengaburkan pandangan kita dari impian yang jaraknya tak lebih dari 1 depa
Perlu sebuah kesabaran dan segenggam kebijakan untuk kita ada di garis akhir dengan senyuman kebahagiaan
Tentunya kedewasaan adalah salah satu faktor penunjang dari banyak faktor lainnya
Meskipun begitu, semuanya merupakan pilihan
Dan di tangan masing-masing dari kita itu ada
Teruslah bermimpi dengan harapan dan usaha untuk mewujudkannya
Semakin tinggi dan tinggi hingga semakin tinggi lagi
Seperti sekelompok burung yang tak pernah lelah berjuang menggapai daerah migrasi
Selamat hari lahir
Gapai terus tangga biru ini
Dan dapatkan cukup satu bintang
Ditulis dalam Umum | Leave a Comment »
Sabtu, 15 Nopember 2008 oleh Yudha P Sunandar
Ketika aku memanggil-Mu Tuhan
Ku serahkan hidupku hanya pada-Mu
Ku pasrahkan segenap jiwa raga untuk memuja-Mu
Dan ku lapangkan bumi ini untuk senantiasa menyembah-Mu
Ketika aku menyapa-Mu Tuhan
Aku bersimpuh tunduk di hadap-Mu
Walaupun seberkas cahaya muncul namun tak pernah memberikan terang
Dan kegelapan tak kunjung pergi dari kehadirannya atasku
Tetap aku menyapamu dengan Tuhan
Ketika aku menyebut-Mu Tuhan
Ketika itu pula aku tak pernah lagi mampu berpaling dari-Mu
Alih2 hanya menengok
Lirikanku pun tak pernah memiliki izin untuk menghilangkan-Mu dari urat nadiku
Dan ketika aku menunjuk-Mu Tuhan
Tak mudah bagiku untuk bisa membenci-Mu
Anehnya, begitu nyata aku mencintai-Mu
Terlalu dalam hingga tak lagi berjejas
Lalu ketika aku meyakinkan-Mu Tuhan
Beribu peluh telah bernapas tiada henti
Menorehkan goresan2 tak terejawantahkan
Hingga aku hanya mampu terapung dan terasing
Akhirnya ketika aku memergoki-Mu Tuhan, Tuhan, Tuhan, Tuhan, dan begitu aku selalu menyebut-Nya
Begitu hampa diriku ada
Tak lagi bernyawa dan tak lagi punya makna
Dan kini kukembalikan seluruhnya pada-Mu, Tuhan
Ditulis dalam Umum | 1 Komentar »
Jumat, 24 Oktober 2008 oleh Yudha P Sunandar
Hanya ada satu bintang
Ketika mentari beranjak pergi dan bulan tak kunjung singgah
Terang di angkasa
Melantunkan kerinduan dari petang yang mulai kosong
Menari di langit malam
Mengisi ruang di bumi dengan kehangatan
Tampak ceria
Sembari menggugah inspirasi setiap makhluk yang terkesima melihatnya
Penuh wibawa dan kehangatan
Memantapkan langkah setiap diri untuk bersamanya di setiap malam
Meskipun purnama bertandang
Dan ribuan bintang lainnya datang dan pulang
Izinkan hamba pernah mengenalnya
Mengenal satu bintang di ufuk senja sana
Sebuah bintang yang elok penuh damba
Satu bintang biru yang ku suka
Ditulis dalam Umum | Leave a Comment »
Senin, 14 April 2008 oleh Yudha P Sunandar
Diri kita adalah sesuatu yang satu
Terpadu dalam belahan hati dan jiwa
Membeku membentuk suatu untaian keindahan
Sebuah bentuk yang unik dan menyenangkan
Kamu adalah kamu
Berbeda dengan yang lainnya yang ada
Tak akan pernah ada persamaan
Meskipun sebuah titik dalam darah
Menjadi dirimu sendiri adalah sebuah karunia
Karunia yang tak terhingga
Yang membuat hidupmu adalah hidupmu
Dan semuanya tak akan ada yang sia-sia
Jadilah dirimu maka kehidupan akan terbuka
Bagai sebuah pintu yang telah kau miliki kuncinya
Dan segala kemudahan akan tersaji di depanmu
Serta menyenangkan bagimu
Tanpa beban hidup
140408
Yudha P Sunandar
Sn
Ditulis dalam 1 | Leave a Comment »
Jumat, 7 Maret 2008 oleh Yudha P Sunandar
Satu demi satu foto banyak perempuan aku lewati
Satu demi satu pula aku liat monyet2 bergelantungan
Mengekor tiada henti pada sang gadis
Terkadang memeluk, mencium, dan tersenyum bersama
Memadu kasih yang seharusnya belum terjadi
Namun ada banyak foto juga yang hanya kenangan
Menurut cerita, sang monyet pindah ke pohon lain
Demi mencari sebuah pemuasan hasrat baru
Dan sarang yang lama dibuang percuma karena sudah tak manis terasa
Iri rasanya melihat para wanita yang dihinggapi monyet2
Membuatku tak bisa lagi menyebutkan sebuah kata suka yang penuh makna
Hanya mampu mengacuhkan gambar2 jelek dan tak berseni
Atau menutupnya tanpa dilihat lagi?
070308
Yudha P Sunandar
Sn
Ditulis dalam Umum | Leave a Comment »
Kamis, 24 Januari 2008 oleh Yudha P Sunandar
Tak pernah terbayangkan bahagianya aku
Saat menerima email darimu
Sebuah kekaguman lahir dari tanganmu kepadaku
Hingga buat aku tersipu dan malu
Aku hanya bercerita tentangku apa adanya
Cerita tentang rutinitas sebuah anak manusia
Tapi kau bersemangat dan bercerita
Bahwa aku adalah inspirasi bagimu
Terima kasih sobat
Inspirasimu telah membawa inspirasiku
Mari kita buat perbedaan adalah sesuatu yang satu
Dan merubah dunia menjadi satu
22012007
Yudha P Sunandar
Sn
Ditulis dalam Tak Berkategori | Leave a Comment »
Kamis, 24 Januari 2008 oleh Yudha P Sunandar
Teriknya mentari menyengat bumi
Tak galaukan sebuah kehidupan dalam ruang kecil
Berjalan hilir mudik menyusuri jalanan beraspal
Menelaah sebuah perputaran roda dunia
Di satu waktu terdengar dentingan gitar
Mengalun sendu dan parau berteriak
Meramaikan suara bisingan jalanan
Menjadi ciri khas yang tak pernah pudar
Meski telah berlewat zaman
Pedagang tak mau kalah berperan
Menjajakan benih-benih penghasil kertas bernilai
Buat orang kesal dan sebal tak jadi soal
Yang penting perut kenyang dan hatinya riang
Di sela-sela deru dan debu
Puluhan manusia lainnya hanya duduk diam
Tertidur, membaca, melamun, atau sekadar berbincang
Menunggu kaki mereka berpijak
Ke tempat yang hati mereka tuju
Begitulah perputaran di sebuah dunia kotak
Di dunia yang kotor nan jauh dari rasa nyaman
Namun disitulah beberapa kehidupan bergantung
Kehidupan dalam bis kota
19012008
Yudha P Sunandar
Sn
Ditulis dalam Umum | Leave a Comment »
Kamis, 24 Januari 2008 oleh Yudha P Sunandar
Hijau nampakmu
Mencerminkan keluguan paras wajahmu
Eloknya pesonamu
Membuat hati setiap pria jatuh di telapak kakimu
Perlahan-lahan aku mulai suka padamu
Bukan pada hijaumu
Tapi birumu yang melekat di sisi lain dirimu
Paras yang bijak melambai dari sana
Keteguhan yang dalam ikut serta menyapa
Rasa kasih sayang yang bijak mewarnainya
Bertegur sapa dengan ketulusan hati yang dalam
Siapa sangka aku lebih menyukai sebuah lontong dibandingkan daun pisang pembungkusnya?!
Kusuka dirimu bukan karena kecantikanmu
Tapi sisi lain dari wajahmu
Yang tampakan sebuah kekekalan
Meski jasad hanya sampai 3 dasawarsa
21012008
Yudha P Sunandar
Sn
Ditulis dalam Tak Berkategori | Leave a Comment »
Rabu, 5 September 2007 oleh Yudha P Sunandar
Tuhan…
Kapan aku bisa belajar dengan tenang
Tanpa memikirkan uang untuk makan setiap hari
Tuhan…
Kapan kau memberikan aku waktu untuk belajar dan melakukan hal yang aku suka
Tanpa memikirkan perut yang selalu kelaparan ini
Disaat kecil dan remaja
Ketika kedua orang tuaku masih di sampingku
Aku tak sempat belajar karena negeri ini tidak menyediakan sarana belajar yang gratis
Dan penghasilan orang tuaku pun tak cukup untuk aku belajar nyaman
Ketika ku beranjak dewasa
Aku harus membanting tulang pada siang hari
Dan meratapi kengiluan badan dan hati
Sehingga aku telah kecapean untuk bisa belajar
Aku tak meminta mobil mewah untuk berangkat sekolah seperti anak2 raja itu
Aku tak minta sekolah bagus dan megah untuk belajar seperti anak2 kaya itu
Yang aku butuhkan cuman kesempatan untuk belajar dan melakukan hal yang aku senangi
Tanpa harus memikirkan uang dan perutku yang selalu kelaparan ini
Aku tak mau menunggu mati untuk belajar, Tuhan
Karena di alam sana aku hanya perlu bertanya pada-Mu, Tuhan
Tentang segala yang ada di alam semesta
Karena Engkau Maha Tahu atas apa yang Kau ciptakan
Ku tahu engkau yang amat sangat Maha Adil
Tidak sedikitpun aku persalahkan Engkau, Tuhan
Karena ku tahu juga Engkau punya rencana di balik ini semua
Dan Kau pun pasti mendengarkan doaku ya Tuhan
Jika besok aku harus mati
Tolong tunjukan segala yang ingin aku pelajari dan yang ingin aku tahu
Tapi jika aku harus hidup seribu tahun lagi
Tolong berikan aku jalan untuk selalu bisa belajar dan beriman pada-Mu
Sekian curahan hatiku pada-Mu untuk malam ini, Tuhan
Dari seorang hamba-Mu yang selalu mengharapkan belas kasih dari-Mu
Dan jalan yang lurus ke dalam Rahmat-Mu
010807, 0113, Bandung
Yudha P Sunandar
Sn
Ditulis dalam Tak Berkategori | Leave a Comment »
Rabu, 5 September 2007 oleh Yudha P Sunandar
Malam semakin larut
Saat banyak pemuda terlarut mabuk
Tertawa dan bernyanyi bersama
Melantunkan emosi yang tak pernah serius
Di sisi lainnya,
Gadis2 dengan tubuh terurai berdiri dan berjalan
Melambaikan tangan pada setiap mobil yang datang
Mengharapkan menikmati segepok uang
Dan kenikmatan bersetubuh
Semakin larut malam
Semakin carut marut dunia
Setiap orang bangga dengan hilangnya akal sehat
Setiap manusia tak takut lagi berbuat dosa
Dunia macam apakah ini?
Ketika satu per satu keperawanan gadis2 terenggut dengan sendirinya
Ketika langkah2 gontai pemuda menghiasi jalanan malam
Ketika uang telah mampu membeli agama beserta tuhan2nya
Ketika matahari mengelokan neraka di bumi
Dunia macam apakah ini?
Tiadakah seseorang malaikat sucipun di sini?
Tiadakah seorang priyai mampu menundukan semua ini?
Dan tiadakah keadilan dan akal sehat ada di sini?
Dunia macam apakah ini?
Macam neraka yang penuh siksa?
Atau surga bagi kemaksiatan yang abadi?
Atau memang neraka yang menjelma sebagai surga
Dunia macam apakah ini?
Aku hanya mampu menatap dan bertanya
Dunia macam apakah ini?
210707
Yudha P Sunandar
Sn
Ditulis dalam Tak Berkategori | Leave a Comment »