Feeds:
Tulisan
Komentar

Dunia Macam Apakah Ini?

Malam semakin larut
Saat banyak pemuda terlarut mabuk
Tertawa dan bernyanyi bersama
Melantunkan emosi yang tak pernah serius

Di sisi lainnya,
Gadis2 dengan tubuh terurai berdiri dan berjalan
Melambaikan tangan pada setiap mobil yang datang
Mengharapkan menikmati segepok uang
Dan kenikmatan bersetubuh

Semakin larut malam
Semakin carut marut dunia
Setiap orang bangga dengan hilangnya akal sehat
Setiap manusia tak takut lagi berbuat dosa

Dunia macam apakah ini?

Ketika satu per satu keperawanan gadis2 terenggut dengan sendirinya
Ketika langkah2 gontai pemuda menghiasi jalanan malam
Ketika uang telah mampu membeli agama beserta tuhan2nya
Ketika matahari mengelokan neraka di bumi

Dunia macam apakah ini?

Tiadakah seseorang malaikat sucipun di sini?
Tiadakah seorang priyai mampu menundukan semua ini?
Dan tiadakah keadilan dan akal sehat ada di sini?

Dunia macam apakah ini?
Macam neraka yang penuh siksa?
Atau surga bagi kemaksiatan yang abadi?
Atau memang neraka yang menjelma sebagai surga

Dunia macam apakah ini?
Aku hanya mampu menatap dan bertanya
Dunia macam apakah ini?

210707
Yudha P Sunandar
Sn

Cinta Hampa

Di sebuah tempat berlabuh
Ku bertemu dengan dirimu
Jatuh cinta pada pandangan pertama
Keterusan setelah sampai di kota kita

Yogya menjadi simbol pertemuan kita
Dan kasih sayang menjadi simbol pertemanan kita
Meskipun kala itu aku telah menambatkan cintaku pada gadis lain
Entah kenapa hatiku selalu ada padamu

Bukan maksudku ingin mendua
Bukan maksudku pula ingin merebut cintamu darinya
Hanya saja hati ini tak bisa menahan
Sebuah rasa yang telah terpendam percuma

Meskipun kau bukan milikku
Meskipun tambatan hatiku bukan padamu
Aku akan selalu memendam rasa ini
Hingga saatnya tiba
Dan aku akan memberikan semua ini
Meskipun kau mungkin tidak mengharapkan semua ini

120607
Yudha P Sunandar
Sn

Kontemplasi

Kehidupan memiliki jalan untuk menampakkan dirinya
Kerelaan dalam hati dan keikhlasan dalam jiwa
Mewarnai sesuatu hal yang tak terduga
Menjadi misteri dalam kata dan rasa

Kini ku bimbang melihat jauh ke sana
Ke arah depan yang gelap gulita
Memandang kehidupan dari sisi yang terdalam
Yang tak pernah bisa ku terka dan ku kira

Aku harus memilih
Jalan mana yang akan kumiliki
Untuk maknai hidup ini
Menjadi bukan hanya langkah hewani
Tapi langkah manusia yang berbudi

Aku harus tetapkan jalur sang hati
Agar tak terperosok ke arah jurang yang sepi
Yang gelap dan tiada berarti
Dan Hilang tanpa api

Kini aku tak tahu lagi
Harus berkata apa dan menjalani yang bagaimana
Karena ku hanya seorang diri
Yang tak berdaya dan tak berarti

Dan kini ku hanya berkontemplasi

Yudha P Sunandar
130706
Sn

Ksatria Malam

Gelapnya malam tak lagi memberikan ketakutan
Dinginnya sunyi tak mungkin lagi menggetirkan jiwa

Aku berlari menempuh kebekuan kegelapan
Diantara rimbunan pepohonan beton dalam taburan bintang
Menyelisik setiap penjuru kota
Dalam keheningan dan kesunyian

Sang ksatria malam telah tiba
Dari istana bulan dan bintang yang berpijar
Mengarungi bahtera dunia yang semakin kelam
Dalam keegoisan yang fana namun menyakitkan

Meskipun tiada arti ku kemari
Namun terpaku setiap jengkal perjalanan kehidupan
Membuatku semakin tahu isi bumi yang kelabu
Menjadikanku mahligai kehidupan kerajaan jiwa jagat raya

140507
Yudha P Sunandar
Sn

Berubah

Setiap detik selku berubah
Setiap langkahku, aku berubah
Setiap tatapanku, dunia berubah
Dan setiap aku bernafas, tubuhku berubah

Setiap pertemuan, mereka berubah
Setiap tatapanku, mereka berubah
Setiap pembicaraan, mereka berubah
Dan setiap dunia berbicara, mereka berubah

Semua berubah
Aku, kamu, mereka
Semua berubah ke arah kehancuran
Semua berubah ke arah kebinasaan
Dan Semua berubah ke arah kematian

Tidak ada sesuatu di dunia ini yang tidak berubah
Karena berubah adalah hakekat setiap makhluk Tuhan
Dari ada
Menjadi tiada

180507
Yudha P Sunandar
Sn

Setiap pandangan mataku mengisyaratkan sesuatu
Setiap itu pula pikiranku berpikir
Dan hatiku berbicara

Ketika aku memandang seorang wanita tua yang berada di pinggir jalan
Mengais mencari nafkah sembari berkomat-kamit “Kasihan”
Pikiranku berpikir dan hatiku berbicara
“Andai aku bisa memberikan sesuatu padanya, maka akan kuberikan”

Ketika aku memandang seorang lelaki dengan mobil mewah
Melaju tak menghiraukan sekitar
Pikiranku berpikir dan hatiku berbicara
“Aku tidak akan sombong seperti dia apabila hartaku berkecukupan”

Ketika aku memandang langit di angkasa
Kemudian menatap kosong pada tanah yang kupijak
Pikiranku berpikir dan hatiku berbicara
“Sungguh indahnya ciptaanmu ya Tuhan”

Ketika aku kaya dan melihat seorang wanita tua di pinggir jalan
Pikiranku tidak lagi berpikir dan hatiku tidak lagi berbicara
Dan semua janji-janji itu nista adanya

Meskipun Pikiranku berusaha untuk berpikir dan hatiku berusaha untuk berbicara
Tiada guna usaha mereka
Karena kini ketamakanku lah yang berbicara

180507
Yudha P Sunandar
Sn

Ketika

Ketika aku muak dengan dunia
Ketika aku resah dengan segala tindak tanduk dunia
Ketika aku tak lagi mampu hidup di dunia
Ketika aku sudah kalah di dunia

Ketika semua kehancuran akan terjadi
Ketika seluruh manusia berjuang untuk mendapatkan uang
Ketika hati mereka hitam legam seperti batu
Ketika Kemiskinan merajalela dan kekayaan menindas manusia

Ketika Tuhan tak lagi berbicara
Ketika Tuhan hanya mampu melihat
Ketika Tuhan hanya mampu mendengar
Ketika Tuhan memberikan cobaan kepada ciptaannya

Kemana aku harus berlari ketika itu terjadi?
Kemana aku harus berdiri ketika itu terjadi?
Kemana aku harus melangkah ketika itu terjadi?
Kemana aku harus bersembunyi ketika itu terjadi?

Ketika semua bumi akan musnah
Ketika Semua langit akan runtuh
Ketika semua gunung akan terbang
Ketika semua ombak akan bergulung

ketika seluruh semesta hilang tak terbentang

180507
Yudha P Sunandar
Sn

Naluri

Derap langkah mereka, terdengar seribu kilo jauhnya dari ujung dunia
Alunan suara mereka, terasa bagai seorang yang bernyanyi di hatiku
Apa yang mereka rasakan, meraba jantungku yang semakin lemah

Aku tak tahu apa yang terjadi padaku
Semuanya begitu jelas olehku
Bukan oleh mereka yang disekitarku
Yang acuh terhadap dunia sekitar

Ketika bumi ini menangis, aku mengerti apa yang bumi tangisi
Ketika langit murka, aku mengerti mengapa dia murka
Ketika semua alam bernyanyi, aku mengerti kebahagiaan mereka

Mengapa hanya aku yang mengerti?

Meskipun aku berusaha menutup hatiku dalam-dalam
Meskipun aku berusaha untuk memejamkan mata
Meskipun aku berusaha sekuat tenaga
Tetapi kebenaran tak dapat dirahasiakan
Dan kebusukan selalu akan terbuka dengan kesaksian malaikat

240507
Yudha P Sunandar
Sn

Renungan Hati

Aku terlahir bukan karena keinginanku
Mengapa aku harus takut menghadapi mati?
Aku di sini bukan karena pilihanku semata
Mengapa aku harus menyesali semua ini?

Ribuan jalan dan takdir telah kulewati
Dalam bahasa yang tak bisa kumengerti
Meninggalkan jejas-jejas kehidupan
Untuk meraih sesuatu yang abadi

120607
Yudha P Sunandar
Sn

Kenangan Itu

Di jendela ini aku berdiri enam tahun yang lalu
Menatap lapangan yang penuh anak-anak berpakaian putih biru
Menambatkan sebuah cita-cita yang tak pernah terjadi
Dan bercerita pada diri sendiri

Kini kenangan itu muncul kembali
Saat aku kembali berdiri di sini lagi
Di sebuah jendela kelas di sebuah sekolah menengah pertama
Membayangi sebuah masa yang bahagia yang pernah kumiliki

Ingin aku berada di sana lagi
Di waktu yang tak pernah aku bisa kembali
Bermain riang dengan tatapan kecilku
Dan bercerita melalui hati ke hati

Andai saja perpisahan itu tidak pernah ada
Andai saja waktu tidak pernah berjalan sombong ke depan
Andai saja aku bisa membawa mereka bersamaku
Andai saja semua ini tidak perlu terjadi

Mungkin aku sedang bersenang-senang di sini
Mungkin aku sedang berjalan kesana kemari
Mungkin aku sedang berbahagia dengan ceritaku
Mungkin aku sedang memanjakan cita-cita yang tak pernah ada

Kini hanya tapak masa lalu
Yang tak pernah bisa kembali
Dan aku masih di sini
Menatap lapangan dengan semua bayangan itu
Bayangan masa lalu yang haru

120607
Yudha P Sunandar
Sn

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »